Sabtu, 12 Juni 2010

MENJAGA SILATURAHIM

Catatan:Achi syamnur

Bergetar rasanya tubuh ini saat mendengar tausyiah KH Zainudin MZ saat penulis memutar CD yang di beli beberapa waktu lalu. Betapa tidak, ia menyoroti 3 hal yang menghalangi amal dan ibadah seorang mukmin saat ramadhan. Salah satunya, mukmin yang memutuskan hubungan silaturahim.

Artinya, akan sia-sia amal ibadah kita bila silaturahim tidak terjaga dengan baik. Hal itu yang di rasakan penulis, sehingga membuat tubuh menjadi bergetar saat mendengarnya. Bila kita tilik kemabali secara harfiah, silaturahim berasal dari kata-kata shilay/washl yang artinya menyambungkan dan Ar-rahim berarti kasih sayang, sehingga silaturahim mengandung pengertian menyambung kasih sayang.

Salah satu contoh paling jelas dari silaturahim ini adalah seruan untuk sholat fardhu berjamaah. Hikmah dari sholat berjamaah itu, akan tercipta intraksi antar sesama muslim bahkan mampu membentuk rasa emosional tinggi yang berakhir pada sikap empati dan setia kawan.

Dalam suatu hadis qudsi, Allah SWT berfirman yang artinya; Aku adalah Ar-rahman. Telah aku ciptakan Ar-Rahim dan aku petikan baginya nama dari namaku.Barang siapa yang menyambungkannya niscaya aku menghubunginya (dengan rahmatku), dan barang siapa memutuskannya niscaya aku memutuskan hubungan ku dengannya, dan barang siapa yang mengokohkan niscaya aku mengokohkannya pula hubungan ku dengannya. Sesungguhnya rahmatku mendahului kemurkaan ku.

Dengan kata lain Allah SWT itu mengingatkan kita untuk tetap menjaga silaturahim. Pasalnya, cinta dan keridhaan Allah terhadap seseorang bergantung dari silaturahimnya. Sejenak penulis merenung sambari mengingat segala prilaku selama ini. Tetapi beberapa detik kemudian, ucapan Dai kondan tersebut yang menyetir sabda Rasulullah SAW dalam muttafaqun alaihi, kembali menyadarkan akan pentingnya sebentuk silaturahim antar sesema muslim. “Rasulullah bersabda, tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim”tegas KH Zainudin MZ lagi.

Rasanya, ucapan itu seketika menohok ke relung hati sanubari yang paling dalam, seakan memaksa untuk mengakui bahwa, silaturahim belum maksimal di lakukan. Masih tersisa sebersit emosi yang tersimpan dalam dada dalam menjalin hubungan antar sesama manusia (Habluminnas).

Bahkan, ada rencana hendak memutuskan silaturahim akibat suatu masalah, yakni tanpa tegur sapa, menahan kebaikan, dan tak jarang menyakiti dengan ucapan. Harus diakui, sulit untuk membina silaturahim antar sesama muslim. Bila dalam hubungan dengan Allah (Hablumminallah), setiap muslim cukup mengerjakan seluruh perintahnya dan meninggalkan larangannya, maka silaturahim antar sesama muslim tidak cukup demikian. Dibutuhkan pengertian dan saling tenggang rasa untuk menjaga silaturahim bisa tetap bertahan.

Saat pikiran malayang, sayup terdengar suara KH Zainudin MZ mengakhiri tausyiahnya dengan satu solusi yang justru menyiksakan pertanyaan di hati “Meminta maaf lebih berarti ketimbang menunggu di maafkan”tegasnya. Tapi, apakah kita mampu mengatasi ego diri melalui sebentuk permintaan maaf kepada orang lain, ketimbang harus menunggu di maafkan??? Allahu allam hanya Allah lah yang mengetahui apa yang ada isi hati manusia.

Read More “MENJAGA SILATURAHIM”  »»